Kajian Alternatif dan Pemecahan Masalah Kemiskinan Di Propinsi Maluku Utara Bagian II

Kajian Alternatif dan Pemecahan Masalah Kemiskinan Di Propinsi Maluku Utara Bagian II

Bookmark and Share

1.2. Tujuan Dan Manfaat

Secara umum kegiatan ini bertujuan untuk menggambarkan kondisi kemiskinan di provinsi Maluku Utara. Tujuan umum tersebut dijabarkan ke dalam tujuan spesifik sebagai berikut; 1). Menyusun database tentang kondisi kemiskinan masyarakat di Maluku Utara terkait dengan variabel ekonomi, sosial, dan budaya; 2). Menyusun database potensi sumberdaya alam untuk pengembangan usaha-usaha pertanian dalam bentuk agroekology zone; 3). Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab dan potensi penganggulangan kemiskinan; dan 4). Menyusun peta zona kemiskinan atas satuan kabupaten dan kota di Maluku Utara.

1.3. Metodologi
Kegiatan studi ini dilakukan di seluruh wilayah provinsi Maluku Utara yang terdiri dari delapan unit kabupaten/kota sebagai unit kajian. Waktu palaksanaan kegiatan adalah Januari sampai Desember tahun 2009. Kajian dilaksanakan dengan pengumpulan dan analisis data dan informasi, baik dalam bentuk data primer maupun data sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara secara individual maupun grup berupa Focus Group Discussion (FGD), sedangkan data sekunder dikumpulkan dari berbagai sumber resmi baik dari BPS, dinas-dinas dan instansi terkait. Penggalian data primer diutamakan untuk mendapatkan infomasi mengenai kondisi dan karateristik sosial ekonomi dan utamanya kondisi dan karaktersitik kemiskinan di wilayah masing-masing. Hasil penting dari wawancara ini adalah pemahaman dan persepsi responden dan informan tentang kemiskinan. Dari wawancara ini dirangkum berbagai indikator kemiskinan beserta variabelnya masing-masing yang dapat dijadikan sebagai upaya menggambarkan atau menilai kemiskinan suatu wilayah. Data ini menjadi acuan utama dalam analisis untuk menentukan tingkat kemiskinan wilayah kecamatan. Kecamatan merupakan unit wilayah terkecil dalam analisis kemiskinan dalam studi ini. Data sekunder merupakan data utama yang penting dalam kegiatan ini, karena dari data inilah kemiskinan suatu wilayah kecamatan diberikan dan disusun peringkatnya. Data sekunder yang dikumpulkan dan digunakan adalah sebagai berikut:

1. Data kondisi geografi dan karakteristik sumber daya alam yang mencakup: kesuburan lahan, topografi lahan, luas lahan pertanian sawah, luas pertanian lahan kering.
2. Data ketersediaan infrastruktur fisik dan sosial, yang mencakup: panjang dan kualiats jalan, keberadaan pelabuhan, jarak ke kota kabupaten dan pusat ekonomi, status desa, ketersediaan fasilitas pendidikan, fasilitas ekonomi beryupa koperasi dan pasar, fasilitas kesehatan, jumlah rumah tangga memperoleh pelayanan listrik dan jumlha rumah tangga yang tinggal di wilayah kumuh.
3. Data kondisi demografi dan karaktersitik sumber daya manusia (kepadatan penduduk, pendidikan dan partisipasi pendidikan, jumlah rumah tangga pra sejahtera, dan jumlah pencari kerja.
4. Data kondisi dan karakteristik aktivitas ekonomi wilayah, yang mencakup: data produksi pertanian tanaman pangan, perkebunan, peternakan, dan perikanan.
5. Data karakteristik kemiskinan wilayah berupa jumlah rumah tangga penerima atau peserta program anti kemiskinan, yang mencakup: jumlah rumah tangga pemegang kartu Askeskin, pemegang kartu Jamkesmas, peserta penerima BLT-BBM, Raskin dan prorgam lokal setempat.

Data primer yang diperoleh dari wawancara individual dan FGD dianalisis menurut kaidah analisa data kualitatif. Analisis data kualitatif terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi data (Miles dan Huberman, 1992: 15-21). Reduksi data merupakan pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis lapangan; sementara penyajian data merupakan sekumpulan informasi tersusun yang memungkinkan penarikan kesimpulan. Data kuantitatif dianalisis secara deskriptif dengan pengkategorian jawaban dan digunakan untuk memutuskan data apa yang akan dijadikan sebagai indikator dalam menyusun peringkat kemiskinan wilayah.
Analisis data sekunder yang berupa data statistik utamanya adalah berupa analisis perbandingan antar wilayah kecamatan dengan membuat rasio. Rasio yang disusun dalam konteks perbandingan dengan total luas wilayah untuk kelompok variabel sumber daya alam dan infrastruktur; serta dengan total penduduk, rumah tangga, atau rumah tangga pertanian untuk variabel sumber daya manusia, aktivitas ekonomi, dan program anti kemiskinan. Keseluruhan data yang terkumpul juga menjadi bahan untuk menyusun data base kemiskinan wilayah di Maluku Utara.
Nilai rasio untuk masing-masing variabel dianalisis dalam dua bentuk. Pertama, adalah analisis cluster dengan SPSS yaitu analisis pengkategorian seluruh kecamatan dalam satu kabupaten berdasarkan karakteristiknya terhadap keseluruhan variabel. Dari analisis ini dapat diketahui tingkat kemiripan antar kecamatan terhadap kecamatan lain. Kedua, analisis dalam bentuk skor dan indeks. Setap variabel yang berupa rasio di kelompok atas 3 nilai skor yaitu 1= rendah, 2= sedang, dan 3= tinggi. Penskoran ini dilakukan dengan SPSS berupaka analisis rank cases, dimana keseluruhan objek dibagi 3 sesuai dengan posisinya titik bagi. Setiap variabel lalu dikelompokkan ke dalam 5 kelompok variabel sebagai disebutkan di atas, yaitu kelompok variabel SDA, infrastruktur, SDM, ekonomi, dan prgram anti kemiskinan. Dari nilai ini, kemudian disusun indeks kemiskinan wilayah, yang menrupakan kompilasi dari kelima kelompok variebel. Nilai akhir dari kemiskinan wilayah juga dikelompokkan atas 3 kategori, yang pengkategoriannya juga dilakukan dengan SPSS berupa analisis rank cases untuk penentuan posisinya atas titik bagi. Hasil analisis juga ditampilkan dalam peta indeks kemiskinan wilayah, serta peta berdasarkan kelompok variabel.
Analisis kemiskinan wilayah dilakukan baik untuk level kabupaten maupun propinsi. Data dan variabel yang digunakan untuk analisis untuk tingkat kabupaten berbeda dengan tingkat propinsi, karena ketidaksamaan data yang berhasil dikumpulkan di tiap kabupaten/kota. Lanjut ke Bagian III
Kerjasama : Bappeda dan Puspemantro Unkhair Ternate.

Related Posts :

0 komentar:

Posting Komentar

Mba Mas Silakan Diisi Komentarnya........