Kajian Alternatif dan Pemecahan Masalah Kemiskinan di Provinsi Maluku Utara VI

Kajian Alternatif dan Pemecahan Masalah Kemiskinan di Provinsi Maluku Utara VI

Bookmark and Share



Geografi dan Sumber Daya Alam

     Kabupaten Halmahera Barat memiliki luas wilayah 14.823,16 km2 dimana hanya seperlimanya berupa daratan dan sisanya adalah laut. Keadaan iklim di Kabupaten Halmahera Barat tergolong cukup basah. Curah hujan tahunan sebesar 2.601 mm, dengan pola bimodal, yaitu 2 puncak musim hujan (Mei dan Desember), sehingga cukup menguntungkan untuk usaha pertanian tanaman pangan. Zone agroklimatnya termasuk A, B1 dan C1. Musim kemarau kurang begitu nyata. Kondisi tanah hampir selalu lembab/basah, dan dapat memenuhi kebutuhan air untuk usahatani tanaman pangan maupun tahunan. Topografi wilayah Kabupaten Halmahera Barat didominasi oleh tanah curam (63%). Jenis Tanah yang dominan di Kabupaten Halmahera Barat adalah Regosol (128.72 1,86 ha), Latosol (49.686,47 ha) Podsolik (44.730,93 ha) serta Andosol (146,52 ha).
Kabupaten Halmahera Barat merupakan salah satu Kabupaten yang dimekarkan dari Kabupaten Maluku Utara yang semula merupakan Kabupaten Induk berdasarkan Undang-undang Nomor 1 Tahun 2003 tanggal 25 Februari 2003. Kabupaten Halmahera Barat dengan Ibukota Jailolo yang dimekarkan dari Kabupaten Maluku Utara semula terdiri dari lima kecamatan namun saat ini telah berkembang menjadi sembilan kecamatan. Berdasarkan Perda No. 7 tanggal 21 Desember 2005 terjadi pemekaran tiga kecamatan yang meliputi Kecamatan Sahu Timur, Kecamatan Ibu Utara, dan Kecamatan Ibu Selatan. Selanjutnya sesuai Perda No. 6 tahun 2005 dimekarkan lagi Kecamatan Jailolo Timur. Luas wilayah Halmahera Barat hanya tinggal seperdelapan luas Kabupaten Maluku Utara yang lama. Di wilayah ini masih cukup luas tersedia sawah, lahan kering, dan tadah hujan. Namun juga masih ada lahan tidur yang belum digarap.
     Pada perut bumi Halmahera Barat juga menyimpan kekayaan bahan galian logam dan nonlogam. Menurut data Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Maluku Utara di Kecamatan Loloda terdapat kandungan emas, mangan, tembaga, pasir besi, batu bara, dan perlit. Belum ada data berapa besar kandungan kekayaan yang terdapat di kecamatan ini. Sedangkan di Kecamatan Jailolo terdapat andesit, kaolin, batu apung, gips, dan batu bara. Terdapatnya empat gunung berapi dan empat sungai menjadikan Kabupaten Halmahera Barat sebagai daerah yang masih alami dan banyak menyimpan kekayaan alam. Potensi bahan galian non logam (golongan C) cukup beragam dengan lokasi tersebar di banyak kecamatan. Sebagian sudah dieksplorasi dan sebagian belum. Jenis yang dimiliki adalah andesit, kaolin, batu apung sirtu, diatomea, gips, dan perlit. Sebagian besar berada di kec Jailolo dan jailolo Selatan. Sementara, bahan galian logam berupa emas, tembaga, batubara, pasir besi dan nikel. Bahan galian ini tersebar di Kecamatan Loloda, Ibu Utara, Jailolo, Ibu Selatan, serta Jailolo Selatan dan Timur.
    Jumlah sawah yang saat ini diusahakan penduduk masih terbatas, meskipun sesungguhnya potensinya masih cukup luas (lihat Tabel 27). Hal ini tentu membutuhkan dukungan kegiatan untuk pembukaan sawah dan prarana yang sesuai. Dari data yang ada terlihat potensi tersebut juga tidak merata di seluruh kecamatan. Dalam kondisi demikian, kegiatan pertanian mengandalkan aktvitas di lahan kering.
Tabel 27. Luas wilayah dan pemanfaatan lahan berdasarkan kecamatan di Kabupaten Halmahera Barat.
Kecamatan 
Luas daratan 
Luas sawah teknis (ha) 
Sawah tadah hujan (ha)
Lahan pertanian
bukan sawah 
Jailolo 
306.13 
30 
32 
22056.9 
Jailolo Timur 
382.94 
0 
0 
Jailolo Selatan 
198.47 
0 
48 
79135 
Sahu 
168.23 
0 
52 
4655.3 
Sahu Timur 
367.19 
10 
65 
5347.5 
Ibu 
148.75 
0 
63 
42724 
Ibu selatan 
503.8 
34 
65 
58524 
Ibu Utara
297.87 
0 
73 
113172.9 
Loloda 
826.36 
0 
25 
249124 
Sumber : BPS, Podes 2008

     Dari sisi penggunaan lahan, selain untuk pertanian, sebagian wilayah Halbar berupa hutan. Dari total luas hutan 246,5 ribu ha, hampir 80 ribu merupakan hutan lindung, hutan konversi 96,2 ribu ha, dan hutan produksi terbatas 27,2 ribu ha. Produksi utama hutan di Kabupaten Halmahera Barat adalah kayu terutama kayu Nyatoh, Matoa, kayu Besi dll. Penguasaan lahan dominan adalah milik sendiri dengan tingkat jual beli lahan tergolong rendah. Selama ini tidak ada konflik lahan. Jumlah pemegang sertifikat tanah milik perorangan sebanyak 759 unit (BPS Halbar, 2008).
     Wilayah Halmahera Barat sebagian besar adalah lautan, sehingga sangat potensial untuk mengembangkan potensi kelautannya. Sebagian besar nelayan di kabupaten ini hanya menggunakan alat-alat yang sederhana untuk menangkap dan mengolah ikan hasil tangkapan sehingga belum maksimal. Untuk perairan darat yang tercatat produksinya hanya tambak dan kolam, sementara untuk sawah, rawa, danau dan perairan umum belum diusahakan. Selain itu, Halbar juga memiliki potensi kepariwisataan. Potensi pariwisata di Kabupaten Halmahera Barat cukup beragam Objek wisata yang ada terdiri dari panorama alam darat sebanyak 11 objek, panorama alam laut 16 objek, budaya 9 objek dan sejarah 15 objek.
 Infrastruktur Fisik dan Sosial

     Ibukota Kabupaten Halmahera Barat terletak di Kecamatan Jailolo, yang dapat ditempuh dari seluruh kecamatan dengan perjalanan darat kecuali dari Kecamatan Loloda yang harus menempuh jalur laut. Dari seluruh desa yang ada di Halmahera Barat, setengahnya merupakan desa pantai.
Di Kabupaten Halbar saat ini telah tersedia 2 pelabuhan besar yaitu Pelabuhan Jailolo dan Pelabuhan Sidangoli. Dari sisi infrastruktur sosial, untuk melayani aktivitas ekonomi telah tersedia pasar dan lembaga koperasi. Sementara untuk pelayanan kesehatan, di Halmahera Barat terdapat 10 puskesmas, 22 puskesmas pembantu, 13 puskesmas keliling, dan 1 poskesdes. Baik puskesmas maupun puskesmas pembantu telah disediakan di tiap-tiap kecamatan. Jumlah puskesmas di tiap – tiap kecamatan berjumlah satu unit, kecuali Kecamatan Sahu Timur memiliki puskesmas sebanyak 2 unit. Untuk puskesmas pembantu jumlahnya berbeda antar kecamatan. Kecamatan yang memiliki puskesmas pembantu paling banyak adalah Kecamatan Loloda yaitu sebanyak 6 unit. Kecamatan Ibu Utara, Kecamatan Sahu dan Kecamatan Ibu Selatan hanya memiliki satu puskesmas pembantu. Puskesmas keliling di kabupaten Halmahera Barat terdiri dari 10 di darat dan 3 di laut. Hanya Kecamatan sahu dan Loloda yang mempunyai puskesmas keliling laut. Sementara Poskesdes hanya terdapat di kecmatan Jailolo (BPS Halbar, 2008).
Sarana pendidikan yang ada di Kabupaten Halbar terdiri dari SD 153 unit, MI 9 unit, SLTP 46 unit, MTs 4 unit, SMU 14 unit, SMK 9 unit dan MA 3 Unit. Dari Tabel 28 berikut dipaparkan jumlah lembaga pendididikan tiap kecamatan, secara total dari SD sampai SLTA. Secara umum, Jailolo sebagai pusat aktivitas ekonomi dan pemerintahan memiliki ketersediaan infrastruktur sosial yang lebih tinggi.
Tabel 28. Ketersediaan infrastruktur sosial masing-masing kecamatan di Halbar.

Kec 
Jumlah desa (unit) 
Desa swasembada (unit) 
Jumlah
sekolah
SD-SLTA (unit) 
Jumlah
koperasi (unit) 
Jumlah
pasar (unit) 
Jumlah
puskesmas,
PUSTU
dan Pusling (unit)
Jailolo 
29 
0 
53 
28 
2 
2 
Jailolo Timur 
6 
0 
12 
4 
1 
3 
Jailolo Selatan 
18 
0 
36 
15 
1 
5 
Sahu 
16 
0 
19 
5 
1 
2 
Sahu Timur 
16 
13 
22 
8 
1 
4 
Ibu 
13 
0 
19 
2 
1 
3 
Ibu selatan 
13 
13 
16 
2 
1 
2 
Ibu Utara 
13 
0 
14 
2 
1 
2 
Loloda 
22 
0 
30 
2 
1 
7 
Sumber : BPS, 2008

 Demografi dan Sumber Daya Manusia

Jumlah penduduk di Kabupaten Halmahera Barat adalah 106.569 jiwa dengan kepadatan penduduk 33,31 jiwa/km2 (BPS, 2008). Menurut data BPS Halbar (2008), jumlah keluarga dengan kategori miskin adalah 10.887 keluarga. Jumlah terbesar berada di Kec. Jailolo, kemudian Kec. Loloda, dan Kec. Ibu Selatan. Selengkapnya dipaparkan dalam Tabel 29, jumlah pencari kerja di Kabupaten Halbar pada tahun 2007 sebanyak 7.131 orang dari berbagai tingkat pendidikan.
Selain itu, berdasarkan data hasil survey BPS (Podes 2008), jumlah rumah tangga dengan sumber pendapatan utama dari sektor pertanian lebih dari setengah total rumah tangga di wilayah ini. Di antara rumah tangga pertanian tersebut, sebagian mengandalkan ekonominya sebagai buruh tani. Selain itu, juga terlihat bahwa sebagian rumah tergolong sebagai wilayah kumuh, yang berada pada empat kecamatan. Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan dan dukungan infrastruktur masih harus ditingkatkan, karena belum dinikmati seluruh penduduk, misalnya untuk layanan listrik. Bahkan di Kecamatan jailolo yang merupakan wilayah induk, belum semua rumah tangga terlayani listrik (Tabel 30).
Tabel 29. Beberapa indikator SDM masing-masing kecamatan di Halbar

Kec
Jumlah penduduk (jiwa) 
Kepadatan (jiwa/km2)
Jumlah rumah tangga (unit) 
Jumlah RT Prasejahtera (unit) 
Jumlah RT sejahtera (unit) 
Jumlah RT penerima raskin (unit) 
Tingkat partisipasi sekolah (jiwa) 
Jailolo 
24417 
79 
6,344 
2,498 
978 
2,734 
3,224 
Jailolo Timur 
4774 
12 
1,864 
622 
850 
814 
630 
Jailolo Selatan
18304 
92 
4,222 
152 
684 
1,028 
2,416 
Sahu 
9862 
58 
2,316 
1,206 
850 
973 
1,302 
Sahu Timur 
7869 
21 
1,816 
1,106 
646 
689 
1,039 
Ibu 
10243 
68 
2,606 
1,975 
1,056 
1,286 
1,352 
Ibu selatan 
10991 
21 
1,772 
1,346 
1,338 
1,415 
1,451 
Ibu Utara 
8006 
26 
2,285 
1,018
1,276 
132 
1,058 
Loloda 
12103 
14 
2,304 
1,067 
1,643 
1,775 
1,598 
Sumber : BPS, 2008

  Tabel 30. Beberapa indikator SDM masing-masing kecamatan di Halbar

Kecamatan 
Toal penduduk (jiwa) 
Total rumah tangga (unit) 
Rumah tangga pertanian (unit) 
RT buruh tani (unit)
RT memperoleh layanan listrik (unit) 
Rumah tangga tinggal di kws kumuh (unit) 
Jailolo 
26611 
6555 
2053 
450 
5051 
10 
Jailolo Timur 
Jailolo Selatan 
16491 
3795 
1489 
183 
2563 
41 
Sahu 
9796 
2420 
1417 
169 
1739 
0 
Sahu Timur 
8002 
1991 
1438 
256 
1462 
0 
Ibu 
10044 
2466 
1120 
262 
1931 
0 
Ibu selatan 
12337 
2639 
1146 
180 
2097 
0 
Ibu Utara 
8099 
1857 
1227 
274 
886 
56 
Loloda 
12609 
2719 
1959 
0 
1213 
60 
Sumber: Podes 2008

 Aktivitas Ekonomi Wilayah

     Pertanian sesungguhnya merupakan sektor andalan bagi masyarakat di Halbar. Namun, produksi beberapa komoditas pertanian tidak mencukupi kebutuhan masyarakatnya. Sebagai contoh, karena produksi beras yang tidak seimbang dengan permintaan konsumsi, beras dipasok dari Sulawesi Selatan sebagai salah satu lumbung padi Indonesia Timur. Sesuai dengan potensi lahan yang dimilikinya, saat ini produksi padi sebagian besar berasal dari kegiatan budidaya padi ladang. Dari Tabel 31 berikut juga terlihat, bahwa jagung dan ubi kayu diproduksi di seluruh wilayah kecamatan. Tanaman sayur-sayuran yang banyak ditanam adalah tomat, kacang panjang, terong dan kangkung. Sedangkan tanaman buah-buahan adalah duku, durian, nanas dan jeruk.
Tabel 31. Produksi beberapa komditas pertanian pangan berdasarkan kecamatan di Halbar.
Kecamatan 
Produksi padi ladang (ton)
Produksi padi sawah (ton) 
Produksi jagung (ton) 
Produksi ubi kayu (ton) 
Jailolo 
101 
102 
1450 
2122 
Jailolo Timur 
- 
- 
- 
940 
Jailolo Selatan 
145 
- 
455 
5120 
Sahu 
172 
- 
645 
2870 
Sahu Timur 
204 
34 
1200 
3018 
Ibu 
170 
- 
220 
1185 
Ibu Selatan 
203 
98 
285 
2487 
Ibu Utara 
164 
- 
213 
1403 
Loloda 
64 
- 
208 
1064 
Total 
1223 
234 
4676 
20209 
Sumber: BPS, 2008

     Sementara, untuk komoditas perkebunan, hasil produksi diperdagangkan ke luar daerah. Hasil produksi perkebunan diperdagangkan ke Surabaya, Makassar, dan Manado. Sebagai wilayah yang didominasi lautan, aktivitas penangkapan ikan di laut banyak dilakoni nelayan. Kecamatan Jailolo dan Loloda merupakan sentra perikanan Halmahera Barat.
Tabel 32. Populasi beberapa komoditas peternakan dan produksi perkebunan berdasarkan kecamatan di Halbar.
Kecamatan 
Populasi sapi (ekor) 
Kambing dan domba (ekor) 
Populasi ayam (ekor) 
Produksi ikan (ton) 
Produksi kelapa (ton) 
Produksi pala (ton) 
Jailolo 
2144 
4.231 
1609 
12,078 
3707 
165 
Jailolo Timur 
42 
137 
128 
2,038 
0 
0 
Jailolo Selatan 
509 
956 
227 
8,052 
0 
0 
Sahu 
548 
458 
440 
3,632 
9719 
336.5 
Sahu Timur 
1479 
125 
199 
2,423 
0 
0 
Ibu 
905 
487 
286 
1,727 
1724 
58 
Ibu selatan 
306 
608 
228 
2,418 
1429 
42 
Ibu Utara 
747 
93 
253 
1,036 
12645 
45.5 
Loloda 
29 
94 
136 
15,332 
1554 
95 
Sumber: BPS, 2008

     Produksi utama dari perkebunan di daerah kabupaten Halmahera Barat adalah kelapa, kakao, pala dan cengkeh. Sebagian besar hasil perkebunan kelapa diolah menjadi bahan baku minyak goreng (kopra). Selengkapnya, disajikan pada Tabel 32.
Untuk aktivitas lain yang tergolong non pertanian, Kecamatan Jailolo juga merupakan pusat industri pengolahan dengan andalan utama komoditas ekspor berbahan baku kayu. Namun demikian, kendala dalam kelangsungan industri ini adalah semakin sulitnya mendatangkan bahan baku kayu dari Kalimantan dan Papua.
Gambaran Umum Kemiskinan

        Untuk memperdalam kondisi kemiskinan yang dihadapi penduduk, dilakukan diskusi (FGD) di tiga lokasi yaitu di Desa Akesibu, Susupu, dan Marimbati. Penduduk dominan di wilayah ini adalah penduduk asli. Sebagai contoh, di Akesibu 90 persen merupakan asli pribumi. Suku yang banyak mendiami wilayah ini Suku Tobaru, Sangir suku pendatang Ternate, Makian, Jawa, Makassar.
        Jenis mata pencaharian utama dan penguasaan sumber daya merupakan salah satu indikator untuk menggambarkan kemiskinan yang dialami mereka. Di Susupu misalnya, mata pencaharian penduduk adalah tanaman perkebunan yaitu kelapa, pala, dan pisang. Penguasaan lahan pertanian sekitar 0,5 – 1 ha dengan kondisi lahan yang subur. Lahan pertanian sesungguhnya bukan akar penyebab kemiskinan. Tingkat produktivitas yang masih rendah serta harga yang belum memadai menyebabkan rendahnya penerimaan rumah tangga dari hasil pertanian. Hal seperti ini juga dijumpai di Marimbati.
    Menurut nara umber saat FGD, penyebab utama dari kemiskinan adalah lemahnya penguasaan SDA dan SDM. Di Susupu dan Marimbati contohnya, kurangnya sarana transportasi menyebabkan biaya pemasaran semikin tinggi jika dipasarkan ke kota Kabupaten/Provinsi. Selain itu juga kurangnya pengetahuan dalam pengelolaan SDA (hal-hal teknis) yang menyebabkan hasil pertanian kurang maksimal. Penyebab lain adalah karena tingkat pendidikan dan motivasi rendah atau kurang. Kurangnya motivasi karena merasa cukup dengan apa yang dimiliki.
        Kondisi kemiskinan sudah terjadi sejak dulu. Kondisi ini semakin diperparah oleh adanya konflik horizontal pada tahun 1999, sehingga masyarakat kehilangan sumber-sumber penghasilan. Meskipun demikian, masyarakat tidak mengalami kesulitan makanan, karena banyak tersedia cadangan pangan selain beras yakni sagu, pisang dan ubi kayu. Masyarakat bisa makan 3 kali sehari meskipun dengan menu yang tidak melulu dari bahan beras.
        Kondisi perumahan umunya berbahan campuran kayu dan tembok. Di Susupu jumlah rumah tembok sebanyak 188 unit, dan tidak ada rumah kayu dan berlantai tanah. Semua rumah adalah bantuan dari Pemda setempat setelah konflik horizontal. Sementara di Marimbati, dari total rumah 55 buah, 54 diantaranya semi permanen dan 4 rumah berlantai tanah. Rumah semi permanen tersebut merupakan bantuan dari Dinas Sosial.
        Selam ini telah berbagai prgram anti kemiskinan digulirkan, baik dari pusat, pemerintah daerah, maupun dari luar negeri. Beberapa rumah tangga menerima sekaligus beberapa program yang berbeda. Dari Tabel 33 terlihat bahwa kegiatan program anti kemiskinan Pemda dan pemegang kartu Askeskin menyebar di seluruh kecamatan.
Tabel 33. Berbagai program anti kemiskinan dan jumlah pesertanya tiap kecamatan di Halbar.
Kecamatan 
Total rumah tangga (unit) 
Progam pemda lokal
Rumah tangga pemegang kartu Askeskin (unit) 
Jailolo 
6555 
2420 
1932 
Jailolo Timur 
684 
Jailolo Selatan 
3795 
974 
685 
Sahu 
2420 
850 
1686 
Sahu Timur 
1991 
646 
699 
Ibu 
2466 
1056 
353 
Ibu selatan 
2639 
1338 
537 
Ibu Utara 
1857 
1276 
292 
Loloda
2719 
1643 
1003 
Sumber: Data diolah, 2009

     Program pemda untuk anti kemikinan dimluai tahun 2003. Program dari luar negeri datang dari lembaga European Comition (CID). Dari pelaksanaan FGD diperoleh informasi bahwa program yang dirasakan cukup berhasil adalah pembagian beras untuk rumah tangga miskin (beras Raskin), BLT-BBM, PPK, IDT dan program Pemda. Program-program ini dikatakan berhasil karena sesuai dengan kebutuhan dan harapan masyarakat. Keberhasilan tersebut juga karena bentuk kegiatannya berupa bantuan dalam hal materi dan prasarana. Secara umum, program yang diinginkan masyarakat adalah berupa bantuan modal, seperti usaha simpan pinjam agar penduduk dapat membuka usaha. Di beberapa lokasi dibutuhkan program yang mampu menyediakan sarana air bersih (air minum) dan kesehatan serta pembuatan TPQ.
     Selanjutnya, dengan memperbandingkan kondisi yang dimiliki dengan gambaran seluruh wilayah kecamatan masing-masing, diperoleh berbagai nilai rasio yang secara relatif mengindikasikan tingkat kesejahteraan di wilayah bersangkutan. Perbandingan antara luas asawah dengan total wilayah, dari ke-9 kecamatan, rasio di kec Sahu, Ibu dan Ibu Utara relatif lebih tinggi dibandingkan yang lain. Hal ini ditunjukkan oleh nilai skor 3 (= tinggi). Namun untuk lahan non sawah, di kecamatan Sahu nilainya paling rendah, yakni skor 1 (= rendah). Hanya di kec Ibu Utara, baik lahan sawah maupun lahan kering rasionya lebih tinggi dibandingkan 8 kecamatan lain. Selengkapnya, disajikan pada Tabel 34.
Tabel 34. Nilai skor variabel SDA dan ketersediaan infrastruktur fisik dan sosial masing-masing kecamatan di Kabupaten Halmahera Barat.
Kec
Rasio luas sawah thd wilayah 
Rasio lahan non sawah thd wilayah
Rasio sekolah thd penduduk 
Rasio koperasi thd penduduk 
Rasio pasar thd penduduk
Rasio lembaga pel kesehatan thd penduduk 
Rasio total rumah mendapat listrik thd total rumah
Rasio RT tinggal di wil kumuh thd total RT 
Jailolo 
2 
2 
2 
3 
1 
1 
2 
2 
Jailolo Timur 
1 
2 
3 
2 
3 
3 
2 
2 
Jailolo Selatan 
2 
3 
2 
3 
1 
2 
1 
1 
Sahu 
3 
1 
2 
2 
2 
1 
2 
3 
Sahu Timur
2 
1 
3 
3 
3 
3 
2 
2 
Ibu 
3 
2 
1 
1 
1 
2 
3 
3 
Ibu selatan 
1 
2 
1 
2 
3 
2 
3 
3 
Ibu Utara 
3 
3 
1 
1 
2 
1 
1 
1 
Loloda 
1 
3 
3 
1 
2 
3 
1 
1 
Sumber: Data primer diolah, 2009


 

    Selanjutnya, dari sisi infrastruktur, ketersediaan sekolah di ketiga kecamatan Ibu (yaitu Kec. Ibu, Ibu Selatan dan Ibu Utara) terlihat paling kurang memadai, demikian pula dengan lembaga pelayanan kesehatan. Namun kondisi berbail dengan rasio rumah tangga yang memperoleh layanan listrik dan kondisi perumahan. Kec Ibu dan Ibu Selatan memiliki skor 3 untuk kedua variabel ini. Selain itu, dari sisi sumber daya manusia, meskipun dari beberpa variabel terbatas, terlihat bahwa kondisi di Kec. Jailolo dan Jailolo Selatan relatif lebih baik (lihat Gambar 14 dan Tabel 35). Bahkan untuk Kec. Jailolo Selatan dari keempat variabel nilai skornya selalu tinggi. Kondisi yang lebih rendah ditemukan di Sahu Timur dan Ibu Utara.


 

 


 

Tabel 35. Nilai skor variabel sumber daya manusia masing-masing kecamatan di Kabupaten Halmahera Barat.
Kecamatan 
Kepadatan penduduk 
Rasio RT pra sejahtera thd total RT
Tingkat partisipasi pendidikan
Rasio jumlah RT buruh tani thd total RT
Jailolo 
3 
3 
3 
2 
Jailolo Timur 
1 
3 
1 
2 
Jailolo Selatan 
3 
3 
3 
3 
Sahu 
2 
2 
2 
3 
Sahu Timur 
2 
1 
1 
2 
Ibu 
3 
1 
2 
1 
Ibu selatan 
2 
1 
2 
2 
Ibu Utara 
2 
2 
1 
1 
Loloda 
1 
2 
3 
3 
Aktivitas ekonomi penduduk diindikasikan dari jumlah produksi berbagai komoditas pertanian dibandingkan dengan total petani dan penduduk di wilayah bersangkutan. Rasio produksi pertanian tanaman pangan (padi dan jagung) tertinggi di kec Jailolo dan Sahu Timur; sementara untuk perternakan tertinggi di Kec. Ibu. Sebagaimana sudah dijelaskan di atas, Kec Loloda merupakan sentra untuk aktivitas perikanan tangkap dan perkebunan pala. Selengkapnya, disajikan  Tabel 36.
  
Tabel 36. Nilai skor variabel aktivitas dan kinerja ekonomi masing-masing kecamatan di Kabupaten Halmahera Barat.
Kec
Rasio produksi padi thd penduduk 
Rasio produksi jagung thd penduduk 
Rasio populasi sapi thd penduduk 
Rasio populasi kambing &domba thd penduduk 
Rasio populasi ayam & itik thd penduduk 
Rasio produksi perikanan laut thd penduduk
Rasio produksi kelapa thd penduduk
Rasio produksi pala thd penduduk
Jailolo 
3 
3 
2 
1 
3 
3 
2 
3 
Jailolo Timur 
2 
1 
1 
2 
2 
2 
1 
1 
Jailolo Selatan 
2 
2 
1 
3 
1 
3 
1 
1 
Sahu 
2 
3 
2 
2 
3 
2 
3 
1 
Sahu Timur 
3 
3 
3 
2 
2 
2 
1 
1 
Ibu 
2 
1 
3
3 
2 
1 
3 
3 
Ibu selatan 
3 
2 
2 
3 
1 
1 
2 
2 
Ibu Utara 
2 
2 
3 
1 
3 
1 
3 
1 
Loloda 
2 
1 
1 
1 
1 
3 
2 
3 
Sumber: Data primer diolag, 2009

Hampir selaras dengan keragaan di atas, dalam hal program anti kemiskinan terlihat bahwa kondisi yang lebih rendah ditemukan di Kec Loloda dan Ibu Selatan, terutama untuk kegiatan penerima raskin dan program lokal. Untuk kedua program ini, jumlah total peserta program lebih tinggi secra relatif dibandingkan 7 kecamatan lain. Selengkapnya, disajikan pada  Tabel 37.
  Tabel 37. Nilai skor variabel program anti kemiskinan masing-masing kecamatan di Kabupaten Halmahera Barat
Kecamatan 
Rasio RT penerima prog lokal thd total RT
Rasio RT penerima raskin thd total RT 
Rasio RT pemegang kartu askeskin thd total RT 
Jailolo 
2 
2 
2 
Jailolo Timur 
3 
2 
2 
Jailolo Selatan 
3 
3 
3 
Sahu 
2 
2 
1 
Sahu Timur 
3 
3 
1 
Ibu 
2 
1 
3 
Ibu selatan 
1 
1 
2 
Ibu Utara 
1 
3 
3 
Loloda 
1 
1 
1 
Sumber: Data primer diolah, 2009

      Akhirnya, dengan menkompilasi keseluruhan variabel, dari Tabel diatas berikut terlihat bahwa jika diurutkan dari atas, maka kecamatan dengan indkes kesejahteraan tinggi adalah Kec Jailolo, Jailolo Selatan, dan Ibu (indkes = 3). Kecamatan dengan indeks kesejahteraan sedang adalah kec Jailolo Timur, Sahu, Sahu Timur dan Ibu Utara (indeks = 2). Kecamatan dengan indeks kesejahteraan paling rendah, atau dapat disebut lebih miskin, adalah kecamatan Ibu Selatan dan Loloda (indkes = 1). Khusus untuk Loloda, rendahnya indeks kesejahteraan juga ditunjukkan nilai skor yang rendah untuk aktivitas ekonomi wilayah dan program anti kemskinan. Artinya, di Loloda progam anti kemsikinan dijalankan dengan peserta yang lebih banyak dibandingkan terhadap total penduduknya.
     Dari segi karakteristik wilayah, tidak selaras dengan kondisi kemiskinan, dari gambar berikut terlihat bahwa beberapa kecamatan memiliki karaktersitik yang lebih dekat, yaitu Kec Ibu dan bu Selatan, serta dengan Jailolo Timur dan Sahu. Meskipun kecamatan Ibu dan Ibu Selatan memiliki karakteristik yang sama, namun dalam hal indkes kemiskinan sangat berbeda. Selengkapnya, disajikan pada  dan Tabel 3.
  Tabel 38. Nilai Indeks kesejahteraan Total beserta komponen gabungan variabelnya Kabupaten Halmahera Barat.
Kecamatan 
Indeks SDA 
Indeks infrastruktur wilayah 
Indeks SDM 
Indeks ekonomi wilayah 
Indeks program anti kemiskinan 
Indeks total wilayah
Jailolo 
2 
2 
3 
3 
2 
3 
Jailolo Timur 
1 
3 
2 
1 
3 
2 
Jailolo Selatan 
3 
1 
3 
1 
3 
3 
Sahu 
2 
2 
2 
3 
1 
2 
Sahu Timur 
1 
3 
1 
2 
3 
2 
Ibu 
3 
2 
2 
3 
2 
3 
Ibu selatan 
1 
3 
2 
2 
1 
1 
Ibu Utara 
3 
1 
1 
2 
3 
2 
Loloda 
2 
2 
2 
1 
1 
1 
Sumber: Data primer diolah, 2009

       Dari seluruh kecamatan, kecamatan yang karakteristiknya sangat berbeda adalah kec Loloda. Hal ini diperlihatkan dari garis penghubung yang paling panjnag dengan kecamatan-kecamatan lain di Halbar. Jika dihubungkan dengan pemaparan di atas, terlihat bahwa perbedaan tersebut tampak dari kondisi alamnya sampai dengan infrastruktur dan aktivitas ekonomi di wilayah tersebut. Kecamatan Loloda merupakan sentra produksi perikanan laut dimana masyarakatnya banyak yang menjadi nelayan.
   
* * * * * * H I E R A R C H I C A L C L U S T E R A N A L Y S I S * * * * * *

 


 

Dendrogram using Average Linkage (Between Groups)


 

Rescaled Distance Cluster Combine


 

C A S E 0 5 10 15 20 25

Label Num +---------+---------+---------+---------+---------+


 

Ibu 6 

Ibu sela 7 


Jailolo 2 


Sahu 4 


Jailolo 1 


Sahu Tim 5





Ibu Utar 8




Jailolo 3



Loloda 9 


 


 

Related Posts :

0 komentar:

Posting Komentar

Mba Mas Silakan Diisi Komentarnya........